Kain Lawon Bonokeling, Wujud Kearifan Budaya Lokal

Sobat Inspirasi, ada yang menarik di keseharian ibu-ibu pada komunitas Bonokeling di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang, Banyumas. Ibu-ibu ini jika tidak sedang musim bertani adalah mereka membuat tenun untuk dibuat kain Lawon.

Kain Lawon adalah kain untuk membungkus jenazah keluarga besar Bonokeling yang meninggal dunia dan untuk dibuat selendang bagi ibu-ibu pada saat acara perlon atau acara adat. Jadi apabila ada keluarga besar Bonokeling yang meninggal dunia tidak menggunakan kain mori tetapi menggunakan kain lawon.

Untuk membuat kain Lawon ada beberapa tahap mulai dari mencampur benang lawon dengan nasi, menjemur, menggulung kain dan terakhir menenunnya. Benang lawon dilumuri dengan nasi agar keras sehingga jika di tenun lebih mudah.

Satu lembar kain lawon dibutuhkan waktu 3 hari sampai satu minggu untuk menyelesaikan proses menenun selembar kain. Selembar kain lawon di hargai sekitar Rp 150 ribu.

Kain Lawon

Permintaan kain lawon Bonokeling cukup tinggi karena bukan hanya keluarga besar Bonokeling di Desa Pekuncen saja yang membutuhkan, namun juga sebagian masyarakat Desa Gunungwetan dan keluarga besar Bonokeling di Kabupaten Cilacap yang tersebar antara lain di Kecamatan Kroya, Kecamatan Kesugihan dan Kecamatan Adipala.

Camat Jatilawang, Oka Yudistira P mengatakan apa yang dilakukan masyarakat desa Pekuncen merupakan sebuah kearifan lokal yang perlu kita jaga dan dilestarikan. Pelestarian budaya masyarakat diharapkan tidak punah sehingga anak-cucu kita mengetahui sejarah nenek moyangnya.

” Selain itu juga dengan tenun lawon ini juga dapat mengangkat ekonomi masyarakat. Kemudian jika budaya ini bisa kita angkat harapannya bisa mendatangkan wisatawan yang nantinya juga bisa menambah income bagi masyarakat,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
WhatsApp